Setiap manusia di dalam dunia ini berhadapan dengan proses penuaan (aging) dan juga proses menuju kematian (dying). Ini adalah realita yang harus di hadapi semua orang. Tidak ada manusia yang kebal dari proses aging dan dying. Semua ini menyatakan benarlah apa yang Alkitab katakan bahwa upah dosa ialah maut dan semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dosalah yang membuat hidup kita menuju kepada kematian yaitu maut.

Ketika kita masih kecil dan tidak berpikir banyak maka proses penuaan dan kematian ini tidaklah terlalu mengganggu. Anak kecil kebanyakan selalu ingin cepat besar. Anak saya, Fidelia Charis, sering berkata nanti kalau dedel besar dedel boleh ini dan itu. Dia ingin cepat bertumbuh dewasa. Tetapi orang yang di dewasa atau yang bahkan menginjak tua makin mengerti apa itu proses aging dan dying. 

Realita kematian dapat menjadi satu hal yang mengganggu di dalam kehidupan kita. Kita tahu bahwa satu hari kita akan mati dan kita sedang menuju ke sana. Hal ini dapat membuat kita cemas, kuatir dan takut.  Kematian itu sendiri bukanlah teman. Itu adalah musuh terakhir. Dari perspektif eksistensial secara umum, kematian kita membuat kita menjadi tidak ada makna. Dengan kematian, keberadaan kita hilang, kita masuk ke dalam isolasi total, kita terpisah dari persekutuan orang hidup, arti hidup kita pun hilang lenyap bersama dengan itu dan perihal mengenai kita pun segera dilupakan orang perlahan-lahan.

 

Namun sebelum mencapai titik kematian, kita mengalami apa yang namanya aging (penuaan) dan dying (proses menuju kematian). Dalam proses ini kita makin hari makin berhadapan dengan lembah bayang-bayang maut. Yang dimaksud bayang-bayang maut adalah kita mencicipi sedikit demi sedikit proses kegelapan menuju kematian. Di dalam proses aging dan dying ini, kita dapat mengalami berbagai aspek lembah bayang-bayang maut yaitu misalnya :

Pertama. kehilangan kesehatan. Dulu kita segar bugar dan lama-lama fisik dan mental kita mulai menurun. Sakit penyakit dapat melanda kita dan kesehatan kita makin tidak seperti semula bahkan makin hari makin turun. Kita menjadi mudah lelah, kita menjadi perlu istirahat banyak, kita menjadi lemah.

Kedua. Masuk ke dalam proses isolasi relasi yang makin dalam. Sewaktu kanak-kanak dan masa kecil kita banyak bergaul, berelasi dan bersekutu dengan banyak orang. Kehidupan sosial penuh dengan warna. Ketika masih dewasa mungkin kita masih banyak relasi. Tetapi makin tua dan sakit-sakitan, kita makin masuk dalam proses isolasi relasi yang makin dalam. Ruang lingkup sosial dan persekutuan kita makin kecil.

Ketiga. Kehilangan makna. Ketika masih muda, kita dapat melakukan banyak hal. Dan kemampuan kita untuk banyak melakukan hal ini dan itu membuat hidup kita bermakna. Tetapi ada waktunya kita akan berhadapan dengan realita proses aging dan dying dimana kita makin lemah dan makin tidak banyak aktivitas. Ketika aktivitas kita makin sedikit dan mengecil kita makin kehilangan makna. Orang yang lebih banyak nganggur lebih merasa diri tidak berguna. 

Keempat. Kehilangan kemandirian. Ketika masih muda dan bugar, kita dapat mandiri melakukan hal ini dan itu. Tetapi ketika mulai kehilangan kesehatan kita, maka kita mulai banyak bergantung kembali kepada pertolongan orang lain. Sebenarnya mitos bebas mandiri adalah mitos yang salah. Manusia semenjak kecil dan juga tua memerlukan orang lain. Orang dewasa pun memerlukan pertolongan orang lain. Setiap manusia bergantung satu sama lain. Itu natur manusia yang diciptakan Tuhan. Hanya secara fenomena kita dapat melihat bahwa orang dewasa lebih mandiri sedangkan anak-anak dan orang tua banyak bergantung pada pertolongan orang lain. Perubahan dari “mandiri” ke tahap bergantung kembali membuat kita dapat kehilangan makna juga. Kebergantungan fisik, finansial, dll dapat membuat kita merasa lebih lemah dan tak berarti. Tetapi ketika seseorang mulai sakit-sakitan atau tua, justru dia harus belajar rendah hati untuk bergantung kepada orang lain. Namun tentu hal ini tak mudah.

Kelima. Kehilangan orang-orang yang dikasihi. Ketika seseorang makin menginjak usia dewasa dan tua, tentunya orang-orang sekitar yang dikasihi dapat lebih dulu meninggalkan mereka. Dulu nenek saya merasa terpukul oleh peristiwa kematian suaminya (kakek saya) dan dekat dengan peristiwa itu adik nenek saya juga meninggal beserta pembantu rumah tangga yang sangat dekat dengan nenek saya juga meninggal. Tiga hal ini merupakan satu realita yang berat yang dihadapi nenek saya. Sekarang ini nenek saya sudah meninggal dunia juga.

Ketika kita satu saat akan menghadapi kelima aspek lembah bayang-bayang maut ini di dalam proses aging dan dying maka apa yang harus kita lakukan ? Mencoba melawan aging dengan mencari obat anti-aging  ( anti penuaan ) bukanlah hal yang benar dan bijak. Karena toh tetap manusia akan mati. Kaisar dari China, Chin Se Huang, juga mencari obat dewa supaya panjang umur tapi toh pada akhirnya mati juga. Di jaman sekarang ada PURTIER yang adalah plasenta rusa yang dipercaya bisa membuat proses anti aging. Namun obat anti aging apapun tidak dapat membalikkan proses kematian karena dosa. Kita akan tetap menghadapi aging dan dying.

Saya percaya bahwa di dalam menghadapi lembah bayang-bayang maut dalam proses aging dan dying ini kita harus percaya kepada Tuhan Yesus yang sudah bangkit. Ketika Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati maka ada beberapa dampak bagi kita yang mengalami proses aging dan dying ini.

Pertama, Tuhan Yesus pernah mengalami proses menuju kematian dan sampai akhirnya benar-benar mati dikayu salib. Kita tidak sendirian dalam menghadapi kematian. Bagi kita yang percaya, kita berbagian di dalam persekutuan penderitaanNya.  Penderitaan orang Kristen bukan hal yang sia-sia. Kita berbagian di dalam persekutuan penderitaan Kristus dan akan mengalami kuasa kebangkitanNya.  Adalah satu penghiburan ketika kita mengalami penderitaan dalam proses kematian, kita bersekutu dengan Kristus. Kita tidak sendirian.

Kedua, Tuhan Yesus hidup. Dia bukan Tuhan yang mati. Kita bukan percaya pada Tuhan yang kalah dan mati. Dia Tuhan yang hidup. Kalau Tuhan tidak bangkit maka sia-sia lah kepercayaan kita kata Paulus. Tetapi kalau Dia hidup dan itu berarti satu pengharapan. Ada satu orang yang sudah mengalahkan kematian dan bangkit kembali yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dan Tuhan Yesus menjanjikan hidup yang kekal pada yang percaya kepadaNya. Karena Tuhan Yesus bangkit, suatu hari kita akan bangkit pula. Dia adalah yang kebangkitan yang sulung dan kita akan bangkit pada kedatanganNya yang kedua kali. Setelah itu selama-lamanya kita akan hidup bersama dengan Tuhan.

Ketiga. Karena Dia hidup berarti DIa menyertai kita di dalam menjalani lembah bayang-bayang maut. Karena Dia Tuhan yang beserta kita maka kita tidak takut bahaya. Kita boleh kehilangan kesehatan, lemah, sakit-sakitan, kehilangan yang dikasihi, makin terisolasi dengan orang lain, makin kehilangan makna, makin bergantung dan tak berdaya. Tetapi kita mempunyai Tuhan yang menyertai kita, membimbing dan menopang kita. Dia memimpin kita melewati semua lembah bayang-bayang maut bahkan sampai maut pula.

Keempat, Tuhan Yesus sudah mengalahkan kematian. Karena Tuhan Yesus mengalahkan kematian maka kita tidak perlu takut pada kematian. Di dalam hidup ini kita banyak menghadapi pertempuran-pertempuran rohani. Seringkali kita bisa jatuh dan kadangkali kita bisa menang. Lalu apa jaminan kita dapat mengalahkan musuh terakhir yang tentunya bukan hal yang mudah ? Jaminan itu adalah karena Tuhan Yesus sudah mengalahkan musuh terakhir yaitu kematian supaya kita yang percaya kepadaNya diberikan kemenangan atas maut. Kematian yang adalah akhir kehidupan kita diubah oleh Tuhan menjadi pintu masuk kepada hidup yang kekal bersama denganNya.

Ketika kita kembali merenungkan mengenai kematian tanpa Tuhan Yesus maka hal itu akan menjadi realita yang menakutkan. Tetapi bila kita merenungkan mengenai kematian dengan realita bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit dan menyertai kita dan akan membangkitkan kita kembali pada kedatanganNya yang kedua maka ini adalah pengharapan bagi orang yang percaya. Penderitaan yang kita hadapi di masa sekarang ini hanyalah seperti mimpi semalam yang sebentar saja. Semua realita yang selama-lamanya menanti kita disana dimana disana tidak ada lagi air mata, kesusahan dan penderitaan. Semuanya akan dijadikan baru dan kita akan hidup selama-lamanya berbahagia bersama dengan Tuhan kita. Karena itu segala penderitaan kita di masa kini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan di masa depan. Marilah kita berharap kepada Tuhan kita yang hidup, yang sudah mengalahkan kematian dan yang menyertai kita sampai pada akhir hidup kita dan sampai selama-lamanya.

Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat bagi kita yang mengalami proses aging dan dying

Jeffrey Lim, M.C.S

11-4-2015

 

We have 29 guests and no members online