Pada malam hari ini, saya terinspirasi untuk menulis tulisan mengenai perihal kuasa mengampuni diri sendiri. Sebenarnya tadinya saya hendak memberikan judul yang menyolok dengan mengkaitkan dengan film terakhir yang saya dan istri saya nonton yaitu Insurgent. Judul yang mau dipakai tadinya adalah  “Kuasa dapat mengampuni diri bukan karena diri mempunyai sifat mengampuni ( seperti  kaum Amity ) atau diri mampu mengendalikan diri ( seperti kaum Divergent ) tetapi karena Tuhan Yesus terlebih dahulu sudah mengampuni kita.” Tetapi judul itu kepanjangan dan karena itu saya pendekin biar lebih gampang dibaca. Lagipula saya tidak sedang membahas film Insurgent dan analisanya.  Ok deh sekian basa basinya. Langsung ke pokok tulisan.

 

Tuhan Allah menciptakan manusia di dalam relasi dengan Tuhan, dengan sesama, dengan alam semesta dan dengan dirinya sendiri. Ada miripnya dan ada analogisnya (walaupun ada bedanya juga), Allah Tritunggal yang mempunyai relasi di dalam diriNya sendiri menciptakan manusia gambar dan rupaNya yang mempunyai relasi dengan dirinya sendiri. Kita sebagai manusia ternyata mampu dan terus berinteraksi dan berdialog dengan diri kita. Di dalam bahasa Inggris kata saya bisa dibagi menjadi : I, me dan myself. Dan menariknya di dalam relasi saya dengan saya sendiri,  saya dapat berbicara kepada diri saya sendiri ( I speak to myself ).  Saya juga dapat memberi semangat kepada diri saya sendiri  ( I encourage myself ).  Ini adalah relasi yang menarik di dalam pribadi manusia dengan kedalaman dirinya.

 

Pemazmur seperti Daud di dalam mazmurnya ada membahas hal relasi diri dengan diri. Daud mengatakan di dalam satu mazmurnya “Hatiku siap. Ya Allah hatiku siap. Aku mau bernyanyi. Aku mau bermazmur. Bangunlah wahai jiwaku ! Bangunlah gambus dan kecapi ! Aku mau membangunkan fajar”. Daud mengatakan kepada dirinya supaya dirinya bangun untuk memuji Tuhan. Kemudian di bagian yang lain dalam Mazmur 42, Daud mengatakan : “Mengapa engkau gelisah hai jiwaku dan tertekan di dalam diriku. Berharaplah kepada Tuhan maka aku akan bersyukur kembali”. Dalam hal ini Daud memberikan konseling dan terapi pada dirinya sendiri. Daud menasihati dirinya dan mengingatkan dirinya untuk berharap kepada Allah. Daud mengkotbahkan kepada dirinya tentang Firman Allah. Daud mengingatkan dirinya bahwa Allah adalah pengharapan.

 

 

Relasi diri dengan diri yang baik adalah seharusnya diri mendukung diri untuk mengasihi Tuhan dan taat kepadaNya.  Tetapi ada relasi yang berbahaya antara diri dengan diri dimana saya dapat membenci diri saya sendiri ( I hate myself ). Relasi diri dengan diri yang rusak dapat mengakibatkan bunuh diri.Sewaktu di sekolah teologi, saya diajarkan bahwa dosa itu merusak seluruh keberadaan manusia dan para teolog menamakan itu kerusakan total ( total depravity ) dimana seluruh aspek manusia tidak ada yang tidak tercemar dosa. Dan saya mendapati bahwa relasi manusia dengan dirinya sendiri juga menjadi konflik dan bermusuhan. Ternyata dosa bukan saja membuat kita konflik dengan Tuhan Allah, namun juga konflik dengan sesama dan perang. Namun ternyata lebih jauh lagi dosa membuat kita konflik dengan diri sendiri.  

 

  Secara aspek normatif, kita dapat mengerti satu pemahaman bahwa dosa dapat mengakibatkan diri membenci diri. Secara aspek pengalaman yang terjadi riil kita dapat belajar dari peristiwa Yudas. Peristiwa Yudas menjual gurunya Yesus Kristus adalah satu hal yang mengerikan.  Yesus Kristus selama hidupnya selalu melakukan hal yang baik dan menjadi berkat. Dia selain menyembuhkan orang secara fisik juga menyembuhkan orang secara rohani. Yesus Kristus memberikan semangat bagi yang lesu dan memberikan kekuatan bagi yang lemah. Buluh yang terkulai tidak dipatahkannya dan sumbu yang pudar tidak dipadamkannya. Yesus Kristus sang gembala agung yang lemah lembut memberikan kasih karunia kepada orang berdosa. Yudas yang bersama Yesus selama 3 ½ tahun menyaksikan semua kebaikan Tuhan. Tetapi dia tamak akan harta dan juga ingin mencobai Tuhan. Dia menjual Yesus dan ternyata Tuhan Yesus membiarkan dirinya ditangkap seperti domba yang dibawa ke pembantaian. Dan Yesus Kristus akhirnya disalibkan. Dia tidak melakukan mujizat melepaskan diriNya. Yesus menyerahkan diriNYa untuk mati dikayu salib. Dan Yudas melihat kematian Yesus karena penghianatannya walaupun sebenarnya itu adalah rencana Allah dalam kekekalan. Yudas dikejar-kejar perasaan bersalah, menyesal, membenci diri dan akhirnya Alkitab mencatat dia mati bunuh diri. Konflik diri dengan diri yang dibuahi secara matang berakhir di dalam bunuh diri.

 

Selain kasus Yudas yang membunuh diri karena konflik dengan dirinya, saya percaya bahwa di dalam dunia ini banyak orang yang juga membenci dirinya bahkan mati membunuh dirinya. Orang mati bunuh diri sebenarnya dia ingin melepaskan diri dari penderitaan batin dan merasa kematian itu jalan lepas dari penderitaan. Jadi sebenarnya bunuh diri itu adalah bentuk dari hedonisme. Mencari kebahagiaan dan menjauhi kesakitan. Tetapi orang yang bunuh diri tidak tahu bahwa di balik satu cara untuk melepaskan diri dari kesakitan dan penderitaan mungkin berakhir di dalam penderitaan yang lebih besar yaitu neraka. Saya tidak berkata bahwa orang Kristen yang bunuh diri adalah pasti otomatis dia masuk neraka. Saya pribadi tetap percaya bahwa orang yang di dalam Tuhan namun karena kelemahannya mengakibatkan dia bunuh diri, orang ini tetap diselamatkan. Tapi kita sedang tidak membahas mengenai keselamatan orang bunuh diri . Topik yang kita bahas yaitu banyak orang di dalam dunia ini yang karena melakukan kesalahan besar sekali dan tidak mampu memaafkan dirinya, akhirnya berakhir bunuh diri.

 

Saya sendiri hendak berbagi cerita hidup saya sedikit. Tahun 2014 adalah tahun yang sangat gelap dalam hidup saya dan keluarga saya ( termasuk istri, anak dan keluarga besar). Memang ada banyak anugerah Tuhan dan salah satunya saya juga boleh lulus sekolah teologi setelah lama bergumul. Tetapi yang menjadi berat di tahun 2014, penyakit Bipolar Disorder saya kambuh secara sangat parah. Bipolar Disorder adalah penyakit mental yang mengganggu suasana alam perasaan dan pikiran. Di dalam waktu 5 bulan saya berada di dalam keadaan mania dan psikotik dan banyak melakukan hal-hal negatif di luar kendali saya sepenuhnya. Di dalam kondisi seperti ini saya menciptakan banyak konflik besar dengan banyak orang. Banyak orang yang dulunya teman saya menjadi jauh atau mungkin menjadi musuh. Saya mengacaukan banyak hal. Keuangan keluarga baik keluarga kecil maupun keluarga besar juga habis banyak. Relasi dengan sesama banyak yang rusak. Saya makin mengerti kenapa anak pendeta Rick Warren yang mengalami Bipolar Disorder seperti saya bisa sampai mati bunuh diri. Saya juga makin memahami kepada artis pemain film Patch Adams yaitu Robin William yang mengalami Bipolar Disorder juga bunuh diri. Ini bukan berarti saya lebih baik dari mereka kalau saya masih ada sampai sekarang. Ini cuma belas kasihan Tuhan.

 

Ketika seseorang sedang di dalam fase mania dari Bipolar Disorder, orang itu dapat melakukan banyak hal ekstrim dan melakukan banyak keputusan yang dapat merugikannya. Dalam kasus saya, saya bukan saya mengalami mania tetapi juga mengalami psikotik yaitu delusi dan halusinasi. Karakter saya berubah menjadi ganas dan aktif. Dan kemudian ketika seseorang dalam fase mania sudah di slow down oleh obat psikiatrik maka orang itu masuk ke dalam fase depresi. Pada fase depresi ini, penderita Bipolar Disorder sadar apa yang dia lakukan. Penyesalan dan kekesalan kepada diri ditambah suasana depresi dari penyakit ini sangat berbahaya dan mengganggu.

 

Pengalaman di tahun 2014 ini sangat menghantui diri saya sehingga saya malu bertemu orang. Saya dihantui rasa malu dan bersalah kepada orang-orang yang dirugikan oleh perbuatan atau perkataan saya. Dan yang lebih dalam adalah rasa kesal dan benci kepada diri saya sendiri. Saya bahkan membenci setiap kebaikan yang ada di dalam diri saya. Saya membenci talenta saya. Saya membenci tulisan-tulisan hasil pelayanan saya. Dan saya terus mengurung diri tidak mau ketemu orang. Depresipun terus menghantui saya. Bedanya dengan orang-orang yang bunuh diri dalam fase ini adalah bukan karena saya lebih hebat. Tetapi karena saya pengecut tidak berani bunuh diri. Dan terutama karena Tuhan masih sayang kepada diri saya.

                Tetapi saya akhirnya terbuka (atau lebih tepatnya Tuhan membukakan mata hati saya ). Saya harus mengampuni diri saya sendiri ! Mengapa ? Karena Tuhan sudah mengampuni diri saya. Sejelek-jeleknya diri saya. Seberdosa-berdosanya diri saya. Sehancurnya diri saya. Tuhan sayang sama saya. Pergumulan eksistensial diri dengan diri ini memang ga mudah. Tetapi saya mengambil langkah eksistensial. Saya mau mengubur masa lalu saya yang gelap dan menghadapi masa depan dengan pengharapan di dalam anugerah Tuhan. Bukankah barangsiapa yang di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru ? Memang pengertian ayat ini adalah mengenai kehidupan baru setelah lahir baru. Tetapi bukankah kita juga terus menerus diperbaharui di dalam Kristus di dalam pengudusan progresif (progressive sanctification ) ? Bukankah Alkitab mengatakan jalan orang benar itu seperti terang yang makin terang sampai rembang pagi ?

 

Dan kalau boleh saya simpulkan. Apa yang dapat membuat saya atau juga anda yang bergumul dengan memaafkan diri sendiri untuk mampu memaafkan diri sendiri adalah karena Tuhan sudah memaafkan kita. Kasih Tuhan lebih besar, tinggi, dalam, luas melebihi pelanggaran kita. Dan karena Tuhan juga sudah mengasihi kita sedemikian rupa maka kita harus mengampuni diri kita dan mendukung diri kita kembali untuk mengasihi Tuhan. Saya percaya kalau saya boleh kembali dipulihkan untuk memaafkan diri dan menghadapi realita dengan lapang dada adalah karena juga anugerah Tuhan melalui tubuh Kristus yaitu melalui penerimaan, konseling, pemberian semangat dan doa-doa saudara-saudari seiman yang mengasihi. Bila anda pernah melakukan kesalahan besar yang membuat anda jengkel dan benci kepada dirimu, salib Tuhan adalah jawabannya. Kematian Tuhan Yesus dikayu salib mendamaikan kita dengan Allah dengan sesama dan juga dengan diri. Kuasa yang dapat membuat diri berdamai dengan Allah adalah kuasa pengampunan Tuhan melalui salib Kristus. Demikian juga kuasa yang sama yang memampukan kita berdamai dengan sesama dan juga dengan diri kita.

 

Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat dan kekuatan bagi mereka yang bergumul dengan kesalahan besar dan boleh memaafkan diri sendiri.

 

Jeffrey Lim, M.C.S

We have 31 guests and no members online