Angka !  Aspek Angka ! 1 2 3 dst ! Kita hidup dijaman dimana angka menjadi kriteria untuk mengukur banyak hal. Misalnya salah satu yang dilakukan di rumah sakit ketika seorang bayi baru saja dilahirkan kita mengukur berapa tinggi badannya dan berapa berat badannya. Di depan dashboard mobil kita melihat berapa km / jam, berapa rpm dan banyak indikator lain yang dinilai oleh angka. Di mp3 player  kita terlihat berapa frekuensi radio FM yang sedang dijalankan, berapa volume suara, dsb. Di jalan tol kita melihat berapa kecepatan yang diperbolehkan dan juga setiap kilometer kita melihat adanya petunjuk-petunjuk jarak. Ketika kita hendak memanaskan makanan menggunakan microwave maka kita mengatur berapa lama microwave akan dijalankan. Kemudian angka mulai bergerak dari 1 menit, 59 detik, dsb. Ketika kita hendak membeli barang di supermarket kita menghitung uang kita dan kemudian setiap belanjaan dihitung oleh cash register. Di handphone kita juga tertulis jumlah pulsa yang masih kita miliki. Sudah jelas di jaman digital ini kita tidak bisa lepas dari aspek angka. Bahkan aspek angka sangat menguasai kehidupan manusia.

 

Ketika angka mulai menjadi indikator di dalam banyak aspek kehidupan maka ada ekses ketika makna segala sesuatu menjadi dinilai oleh angka. Ketika segala sesuatu dinilai oleh angka maka makna kehidupan manusia menjadi tereduksi oleh aspek angka. Aspek angka ini sendiri adalah tidak salah. Ini adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang tentunya baik. Tetapi yang salah adalah ketika manusia mengabsolutkan angka sehingga apa yang dipandang bernilai dan apa yang dipandang berharga di dalam manusia diukur secara dominan oleh kategori angka. Dan yang bahaya adalah ketika seseorang menilai hidup manusia dan makna hidupnya dari aspek angka. Ini adalah salah satu fenomena yang sering terjadi sehari-hari ditengah kehidupan kita. Kita sering menilai kepandaian seseorang dengan IQ. Kita menilai keberhasilan seseorang dengan jumlah uang dan harta yang dia miliki. Kita menilai kesehatan seseorang cenderung dinilai dari angka pemeriksaan fisik (dan bukan rohani) dimana angka kolesterol rendah, fungsi darah masih baik, fungsi hati masih baik, dsb.  Kita menilai kinerja seseorang juga dengan berapa gaji yang didapatkan, berapa banyak jumlah projek yang dihasilkan, dsb. Kita menilai kesehatan jiwa seseorang dengan tes MMPI. Siswa dipandang pandai ketika nilai rapornya tinggi semua. Mahasiswa tertinggi adalah yang mendapatkan IP yang paling tinggi. Hamba Tuhan yang dipakai Tuhan adalah yang jumlah anggotanya paling banyak. Masih banyak contoh yang dapat dipakai untuk melukiskan betapa seringkali manusia dinilai menurut angka.   

Aspek angka ini sendiri sebenarnya netral. Aspek angka hendak menunjukkan seberapa akurat ukuran sesuatu. Tetapi seringkali ketika manusia melihat angka ada penafsiran presuposisi dibalik angka ini yang tidak netral. Berbicara angka untuk mengukur sesuatu yang fisik adalah sah. Tetapi berbicara angka untuk menilai manusia dan makna hidupnya adalah sesuatu yang salah kategori.Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia mempunyai nilai dan dignitas yang tentunya bukan ditentukan oleh angka tetapi oleh bagaimana hidupnya berpadanan dengan Firman Tuhan. Nilai seorang manusia adalah bagaimana dia setia dihadapan Tuhan, bagaimana dia mengasihi Tuhan dan sesamanya. Nilai dari seorang manusia bukan ditentukan oleh apa yang kelihatan tetapi oleh apa yang tidak kelihatan yaitu apa yang ada di dalam hatinya. Imannya, kerohaniannya dan karakternya.

Marilah kita menilai diri kita dan orang lain bukan berdasarkan angka yang impersonal tetapi marilah  kita melihat manusia sebagai gambar dan rupa Allah diciptakan untuk taat dan mengasihi Tuhan.

Jeffrey Lim
7-10-2013   

We have 26 guests and no members online