Banyak orang dunia mungkin berpikir bahwa menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus Kristus adalah hal yang sangat berat. Hal ini seperti perihalnya jalan asketis. Diri begitu disiksa dan begitu menyakitkan. Karena itu mereka menghindar jalan ini. Jalan ini tentunya tidak menyenangkan bagi kedagingan yang menyukai untuk dipuaskan nafsunya.  Jalan salib dipandang sebagai jalan yang bodoh, jalan yang hina, jalan memalukan dan jalan yang sangat merugikan. Tetapi anehnya justru di jalan salib ini sesungguhnya ada paradoks yang besar. Jalan yang sepertinya menuju kematian ini adalah sesungguhnya jalan menuju kehidupan. Jalan yang sepertinya jalan penderitaan ini adalah jalan menuju pengharapan.   

 

Pandangan orang yang berpikir bahwa memikul salib adalah jalan yang berat, menyesakkan sesungguhnya ini adalah pandangan yang sebenarnya keliru. Mereka yang berpikir seperti ini tentunya sudah merasakan bahwa hidup di dalam dunia yang berdosa ini adalah hidup yang penuh dengan kesengsaraan dan kesusahan. Buat apa tambah satu lagi penderitaan kalau hidup sudah sengsara ? Kelihatannya seperti logika yang masuk akal. Tetapi masuk akal bagi rasio yang sudah jatuh dalam dosa.   

Jalan salib sesungguhnya adalah jalan hidup berkelimpahan dan sukacita. Mengapa ? Karena melalui jalan ini kedagingan kita dikikis dan dimatikan. Sesungguhnya kedagingan diri kita, dosa kita, hidup yang berfokus pada diri kita sendiri adalah hal yang membuat kita malang dan menderita. Kedagingan dan dosa kita akan mengakibatkan hukuman kekal di neraka. Dan selama di dalam dunia ini kedagingan dan dosa kita yang membuat kita hidup dalam kesengsaraan. Ketika kedagingan hidup maka disana tidak ada kasih. Ketika kedagingan berkeliaran maka disana tidak ada kerukunan dan ketentraman. Semua egois. Semua anti sosial. Semua berpusat pada diri sendiri. Semua malang dan menderita.   

Kalau kita boleh melihat masalah manusia sesungguhnya adalah dosa. Dan dosa membuat manusia tidak bisa mengasihi Tuhan dan sesama. Karena manusia yang hidup di dalam dosa berfokus pada diri sendiri dan membenci orang lain. Dosa mengakibatkan kekerasaan demi kekerasan. Dosa mengakibatkan nafsu demi nafsu. Dan dosa akan membawa kita ke dalam neraka.   

Puji Tuhan ! Ada berita sukacita ! Tapi sebentar dulu    

Tetapi sebelum saya kabarkan berita sukacita ini saya hendak memberitahukan konteks berita sukacita ini. Konteks berita sukacita ini adalah bagi kita yang hidup yang penuh dengan tuntutan. Tentunya kalau kita coba tenang merefleksi kita akan sadar bahwa hidup ini adalah hidup yang penuh dengan tuntutan. Hidup ini penuh dengan tuntutan baik dari orang lain, orang terdekat, Negara dan terutama tuntutan hukum Allah. Di dalam menghadapi tuntutan hidup ini ada 2 macam manusia yaitu manusia yang melarikan diri dari tuntutan dan akan semakin dituntut. Dan satu macam lagi adalah manusia yang menjalankan tuntutan ini dengan kekuatan sendiri dan akhirnya membenarkan diri dan kemudian akan tetap dituntut. Tetapi sesungguhnya tidak ada manusia yang mampu melaksanakan tuntutan bahkan tuntutan hukum Allah secara sempurna. Semua ini karena manusia sudah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.   

Satu realita yang menarik bahwa tuntutan atau dalam bahasa Alkitab adalah hukum Taurat membuat manusia tidak bisa lari dari penghukuman. Ketika manusia berada di dalam penghukuman dan semua tuntutan ini itu bagaimana kita bisa mengasihi ? Bagaimana seseorang yang berada di dalam  posisi keadaan survival atau bertahan hidup bisa mengasihi sesamanya ?. Bagaimana seseorang yang bertahan hidup bisa memikirkan orang lain dan mengasihi ? Tidak mungkin. Karena itu semua berfokus pada diri sendiri. Semua membenci yang lain. Ini adalah keadaan malang manusia di dalam dosa.   

Puji Tuhan ! Ada berita sukacita !   

Allah Bapa mengasihi dunia ini dan mengutus Anak Allah, pribadi kedua Allah Tritunggal untuk berinkarnasi ke dalam dunia ini dan menjadi manusia. Ini adalah berita natal yaitu berita inkarnasi. Manusia yang berada di dalam kegelapan dikunjungi oleh Sang Pencipta sendiri.  Yang memiliki alam semesta rela menjadi manusia dan menjadi bayi yang lahir di palungan. Yang berkuasa raja segala raja rela menjadi bayi kecil yang lemah. Dan Yesus Kristus yang dilahirkan ini mempunyai misi atas hidupNya. Hidupnya untuk menjalani tuntutan hukum Taurat yang kita tidak mampu lakukan. Dia datang ke dunia ini untuk menggantikan posisi kita. Dia mengindentifikasikan diriNya dengan manusia berdosa. Dia mengambil rupa hamba dan menderita. Dia menjalankan seluruh tuntutan Taurat demi kita yang dikasihiNya bahkan Dia menanggung kutuk hukum Taurat yang seharusnya kita tanggung. Dia mati di kayu salib dan ditinggalkan Allah Bapa yang mengasihi Dia. Dia yang tidak berdosa dijadikan dosa dan dihukum serta mengalami penderitaan neraka. Murka Allah ditembakkan kepada Dia supaya kita boleh dilepaskan dari murkaNya.   

 Terima kasih kepada Tuhan !   

Ini adalah berita sukacita !   

Karena pengorbanan Kristus di kayu salib, kita dibebaskan dari kutuk hukum Taurat. Dan kita dimerdekakan dari penghukuman. Kita dikasihi Allah dan dikasihi selamanya. Kita berada dalam damai sejahtera karena Kristus. Orang percaya mempunyai pengharapan hidup yang kekal serta kebangkitan tubuh. Semua karena kasih Tuhan ! Tuhan Yesus mati bagi kita di kayu salib !   

Ketika kita dibebaskan dari kutuk hukum Taurat maka kita dimampukan untuk menjalani hukum Taurat bukan dengan kebencian dan paksaan tetapi dengan kasih. Kita dimampukan untuk mengasihi. Dan ini yang membuat kita mempunyai hidup berkelimpahan serta sukacita. Tetapi semua jalan ini berada dalam konteks jalan salib. Dengan jalan salib yang dimulai dari karya Kristus, kita dimampukan untuk mengalahkan kedagingan diri kita sendiri. Karena itu jalan salib adalah jalan berkat.

Jeffrey Lim
17-12-2013

We have 28 guests and no members online