Renungan singkat mengenai sukacita   

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. ( Roma 8:1 )

Di bagian sebelumnya saya membahas mengenai bagaimana menjalankan perintah bersukacitalah senantiasa. Pada perenungan sebelumnya dibahas mengenai bagaimana menjalankan perintah ( imperatif ) bersukacita itu dimungkinkan karena apa yang terlebih dahulu Allah lakukan untuk kita ( indikatif ). Tanpa pekerjaan kasih karunia Allah maka manusia tidak mampu bersukacita. Bersyukur bahwa Injil adalah berita sukacita ! Karena injil manusia bisa hidup di dalam sukacita. Di dalam kesempatan kali ini, meneruskan mengelaborasi perenungan sebelumnya saya ingin membahas satu aspek apa yang membuat manusia itu tidak bisa sukacita yaitu bersalah ( guilt ).  

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia bersalah di hadapan Allah. Manusia melanggar hukum Allah sehingga di dalam mata Allah yang adalah hakim dan raja segala raja,  manusia berada di dalam penghakiman dosa. Bersalah secara moral ini mengakibatkan perasaan bersalah di dalam diri manusia yang menghantuinya. Manusia takut dan bersembunyi dari hadapan Allah. Ketika manusia takut dan berada di dalam penghukuman maka manusia tidak hidup di dalam kasih. Manusia tidak bisa mengasihi Allah dan sesama. Ini adalah mengerikan. Manusia fokus pada dirinya sendiri, anti sosial dan hidup dalam permusuhan satu sama lain. Ini yang membuat manusia menjadi malang.   

Semua manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Ketika manusia sudah bersalah dan berdosa dihadapan Allah, ketika itu iblis juga berusaha mendakwa dan menuduhnya serta menyakinkan Tuhan Allah tidak baik. Pikiran manusia juga menjadi gelap dan tidak bisa lagi mengenal realitas sesungguhnya. Fungsi hati nurani juga menjadi rusak. Hati nurani juga menuduh manusia bahwa dia sudah bersalah terhadap hukum moral Allah. Jiwa manusia tidak pernah tentram sampai manusia kembali kepada Allah.

Banyak manusia di dalam dunia ini yang mempunyai kegelisahan rohani yang mungkin orang lain tidak ketahui. Ada orang yang sudah melakukan banyak kebaikan tetapi dalam hatinya tetap merasa dia tidak bisa tentram. Ada orang yang sudah melakukan banyak ritual untuk menyucikan diri secara agama tetapi dia tetap merasa dirinya najis. Ada orang yang hidup di dalam teror rasa bersalah karena perbuatan dosa yang dilakukannya. Ada orang yang paranoid merasa orang ingin menjahati dia karena dia sendiri jahat sehingga merasa tidak aman, diawasi orang dan dihakimi. Ada orang yang depresi karena hati nurani dia terus menuduh dia salah. Ini semua membuat hidup tidak sukacita.

Martin Luther seorang reformator pernah mengalami perasaan seperti ini. Martin Luther banyak bergumul di dengan dosanya. Dia seorang yang sangat peka terhadap bersalah akan dosa. Dia takut akan hari kiamat dan ia ingin diselamatkan. Dia sering berpuasa, berjaga-jaga waktu malam, menyiksa diri, berdoa, dll. Luther menurut teman-temannya paling saleh, rajin dan beramal daripada semua imam yang lain. Tapi dia tetap merasa berdosa. Dia bergumul secara rohani. Ia sadar akan dosanya sendiri, akan kekudusan Allah dan ketidakmampuannya dalam memperoleh belas kasih Tuhan. Ia melakukan semua yang dapat ia lakukan untuk menegakkan kesalehannya. Ia bahkan naik tangga Pilatus yang dianggap pernah dilalui Kristus. Luther berdoa, dan mencium setiap anak tangga ketika ia naik namun keraguannya tetap ada. Luther merasa jauh dari anugerah Allah. Ia mengerti bahwa segala perbuatan manusia meski sangat baik dan selah tidak berharga dimata Tuhan. Ia tidak percaya lagi bahwa segala amal dan dosa manusia dihitung satu persatu dalam buku kas sorgawi, lalu kedua jumlah debit kredit itu dibandingkan satu persatu untuk menentukan saldo manusia apakah boleh masuk surga atau neraka. Luther sadar bahwa buah yang baik hanya didapatkan kalau pohonnya baik. Jadi yang dterutama bukan perbuatan yang diperhatikan Tuhan melainkan keadaan hati manusia. Oleh sebab itu Luther mustahil mendapat sejahtera bagi jiwanya karena dia tahu bahwa hatinya tidak baik dan tulus dihadapan Tuhan. Ia mencari keuntungan dan keselamatannya sendiri. Dia tahu bahwa segala amalnya dibuat untuk dirinya sendiri dan untulk bukan kemuliaan Tuhan. Makin besar usaha Luther untuk menyucikan dirinya makin sadar bahwa dia menuju kebinasaan. Dia mulai putus asa.

Menurut ajaran gereja Katolik manusia memang tidak sanggup beramal dengan kekuatannya sendiri. Untuk itu dia perlu dibantu oleh kuasa anugerah yang dicurahkan ke dalam batinnya melalui sakramen. Luther berharap menerima kuasa anugerah ini dengan pengakuan dosa dan misa. Dia sering mengaku dosa dan menceritakan pergumulan batinnya dengan kepalanya Johan Von Staupitz. Tetapi tuan itu juga kurang mengerti masalah Luther. Menurut pandangannya dosa luther sebenarnya tidak berat bahkan dosa yang kecil. Semua hiburan tidak melenyapkan kekusutan hatinya.

Beberapa tahun kemudian, Luther kembali ke Wittenberg sebagai doctor teologi untuk mengajar pelajaran Alkitab. Pada tahun 1515, ia mulai mengajarkan surat Paulus dan kata-kata Paulus meresap dalam jiwa Luther. Martin Luther membaca kitab Roma 1:17 dan dia gentar ketika membaca mengenai kebenaran Allah. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Luther mengerti kebenaran sama artinya dengan keadilan yaitu sifat untuk memberi kepada seseorang apa yang patut diterimanya. Jadi kebenaran Allah adalah sifat Allah untuk menghukum orang berdosa. Dia menjadi gentar. Tetapi jikalau begitu apa sebabnya Paulus mengatakan bahwa sifat Tuhan yang dasyat itu  dinyatakan dalam kabar sukacita yaitu Injil ? Luther membenci Allah karena kebenaran dan keadilanNya yang mencampakan semua manusia bersalah kepada neraka.

Siang malam Luther memikirkan ayat ini dan mencari maknanya. Akhirnya ketika sedang menyelidiki Alkitab, Roh Tuhan membukakan dia pengertian bahwa kebenaran Allah di dalam Roma 1:17 itu adalah kebenaran Allah yang diperoleh melalui iman. Orang benar hidup melalui iman. Ini adalah pembenaran yang terima orang percaya melalui iman kepada Yesus Kristus. Allah membenarkan orang percaya melalui iman kepada Yesus Kristus..Kata Luther “Aku mulai sadar bahwa kebenaran Allah tidak lain daripada suatau pemberian yang dianugerahkanNya kepada manusia untuk memberi hidup yang kekal kepadanya. Dan pemberian kebenaran itu harus disambut dengan iman. Injillah yang menyatakan kebenaran Allah itu yakni kebenaran yang diterima oleh manusia dan bukan kebenaran yang harus dikerjakannya sendiri. Dengan demikian Tuhan yang beranugerah itu membenarkan kita dnegan anugerah dan iman saja. Aku merasa diriku seakan-akan dilahirkan baru dan pintu Firdaus terbuka bagiku. Pandanganku terhadap seluruh Alkitab menjadi berubah sama sekali karena mataku sudah terbuka sekarang”. Oleh anugerah Allah, dia terbuka mata rohaninya.

Dan Martin Luther kemudian mengajarkan pengajaran Alkitab yang dia temukan kembali yaitu pembenaran melalui iman. Manusia dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat tetapi karena menerima Injil melalui iman. Ini adalah anugerah bukan usaha manusia. Hanya anugerah semata-mata dan hanya melalui iman semata-mata ( Sola Gracia dan Sola Fide ). Martin Luther menemukan sukacita dan kedamaian jiwanya di dalam Injil.

Ketika manusia dibenarkan dihadapan Allah maka dia tidak berada di dalam penghukuman Allah lagi. Di dalam Roma 8:1 dikatakan bahwa di dalam Kristus Yesus tidak ada penghukuman lagi. Ini berarti orang percaya di dalam Kristus sudah hidup di dalam damai sejahtera Allah. Mereka tidak lagi diperhitungkan bersalah. Mereka tidak lagi dihukum. Mereka sudah dibenarkan. Mereka hidup di dalam kasih karunia. Status orang percaya yang dahulu adalah orang berdosa sekarang menjadi anak-anak Allah. Relasi Allah dengan orang berdosa berubah dari seorang yang didakwa dalam penghakiman menjadi anak-anak Allah yang dikasihi. Semua ini dimungkinkan karena karya Kristus di kayu salib.

Tuhan Yesus Kristus mati dikayu salib. Percaya karya Kristus di kayu salib adalah obat kesembuhan bagi jiwa manusia. Oleh bilur-bilurnya penyakit rohani orang yang percaya kepadaNya disembuhkan. Dosa orang yang percaya kepadaNya ditimpakan kepada Kristus dan kebenaran Kristus yang sempurna diberikan kepada orang yang percaya kepadaNya. Ini adalah injil.
Bagaimana seseorang bisa sukacita dan bahagia ? Ketika dirinya sudah tidak dihukum dan dibenarkan Allah dan diperdamaikan dengan Allah melalui karya Kristus. Semua ini dimungkinkan melalui Injil Tuhan Yesus Kristus. Hati yang gembira adalah obat. Ketika hati seseorang sukacita dan bergembira mengakibatkan kekuatan di dalam dirinya dan juga memberikan kesehatan baik secara jiwa maupun fisik. Ini adalah ajaran Alkitab. Namun bagaimana supaya memiliki hati yang gembira ? Bukan dicapai dengan mengusahakan perintah bersukacita secara imperatif tanpa indikatif. Terlebih dahulu kita perlu bergantung kepada karya Tuhan Yesus ( indikatif). Supaya hati bisa sukacita dan gembira seseorang harus menerima Injil Tuhan Yesus Kristus. Dan setelah itu baru kita dimampukan untuk bersukacita.

Puji Tuhan !

Jeffrey Lim
30-11-2013

We have 21 guests and no members online