Renungan singkat mengenai sukacita

Saya sering membaca berkali-kali dan juga mendengar orang mengatakan dari kutipan Alkitab bahwa “hati yang gembira adalah obat”. Saya juga sering ketika membaca surat Filipi bertemu dengan kalimat dari Paulus yang mengatakan “Bersukacitalah senantiasa”. Ini adalah salah satu ayat terpendek dalam Alkitab disamping “Tetaplah berdoa”. Tetapi jujur. Jujur sedalam-dalamnya di dalam hatiku. Seringkali saya bingung dengan satu perintah dari surat rasul Paulus untuk bersukacita. Bersukacita disini adalah perintah. Tetapi makin saya mengusahakan saya tahu bahwa saya tetap tidak bersukacita. Seringkali waktu saya membaca satu ayat hati yang gembira adalah obat. Jujur sejujur-jurnya yah. Saya merasakan bahwa saya menginterpretasikan ini sebagai satu perintah dimana kalau saya jalani maka akan mendatangkan kesembuhan baik di dalam fisik maupun jiwa. Tapi masalahnya bagaimana mempunyai hati yang bergembira. Makin berusaha untuk bergembira makin saya tidak bergembira. Saya seperti ketika saya mendengar bahwa buah roh adalah sukacita. Kemudian berusaha sekuat mungkin untuk sukacita. Akhirnya depresi.   

Tetapi … Puji syukur kepada Tuhan !  

 

Saya dibukakan satu hal mengenai  struktur dalam Injil dalam Alkitab yang membagi pengertian antara indikatif dan imperatif. Misalnya struktur kitab Roma dapat kitab bagi secara garis besar dimana indikatif adalah bagian dari Roma 1-11 dan imperatif adalah bagian dari Roma 12-16. Tentunya indikatif dan imperatif ini jangan dimengerti secara patah tetapi secara berkesinambungan. Hanya urutannya adalah indikatif dulu baru imperatif.  Struktur kitab Efesus juga ada miripnya. Indikatif dulu baru imperatif.   

Apa itu indikatif ? Apa itu imperatif ?

Indikatif adalah apa yang Allah lakukan bagi kita, karya Allah bagi kita, kasihNya bagi kita. Dan imperatif adalah perintah Tuhan bagi kita. Ternyata waktu saya membaca perintah untuk bersukacita, saya seringkali melihat perintah ini dari sisi imperatif tanpa sebelumnya mengimani yang indikatif. Dan akibatnya stress dan tidak mampu melakukannya. Ini seringkali kesalahan kita sebagai orang Kristen. Kekristenan bukan moralisme. Kekristenan bukan sekedar melakukan pekerjaan baik. Kekristenan bukan sekedar bermoral baik. Orang menjadi Kristen karena mendengar dan percaya Injil. Dari iman sejati baru menghasilkan perbuatan baik. Bila kita fokus pada perbuatan baik tanpa terlebih dahulu mengimani Injil maka kita akan jatuh ke dalam spirit agama. Bila kita fokus pada melakukan hukum Taurat tanpa mengimani Injil maka kita akan menjadi legalisme. Dan tentunya kalau kita mau menjalani hukum Taurat dengan kekuatan kita sendiri kita akan menyadari bahwa kita tidak mampu melakukannya. Akhirnya kita diperbudak oleh bersalah (guilt) atau kita menjadi munafik seolah-olah kita bisa melakukan semua perintah ini.

Perintah untuk bersukacita dan bagaimana hati yang gembira adalah obat harus dimengerti bukan hanya sebagai imperatif tetapi harus kita terlebih dahulu mengerti apa yang Allah kerjakan bagi kita. Indikatif sebelum imperatif.
Marilah kita mendengar Injil yang sama yang selalu didengungkan. Kita harus punya kepekaan bahwa kita diselamatkan melalui Injil tetapi kita juga hidup sehari-hari oleh Injil. Kita yang sudah memulai dengan roh jangan meneruskan dengan kedagingan. Seringkali kita sudah mendengar Injil dan akhirnya terbiasa dan mulai menjadi kata-kata kosong dan klise. Tetapi marilah kita coba renungkan kembali mengenai Injil yang sama yang menyelamatkan kita.

Bapa mengasihi kita dan mengutus AnakNya ke dalam dunia untuk mati bagi kita orang berdosa. AnakNya yaitu Tuhan Yesus Kristus menjalani seluruh hukum Taurat dengan sempurna dimana tidak ada seorang manusiapun bisa melakukannya.  Tuhan Yesus Kristus menggantikan hukuman dosa kita di kayu salib. Seluruh kutuk hukum Taurat ditanggungnya bagi kita. Dan ini adalah berita sukacita ! Injil adalah berita sukacita !   

Mengapa ?   

Karena masalah dosa kita ada jawabannya. Dosa adalah yang membuat kita menjadi tidak bahagia. Dosa yang membuat kita tidak bisa sukacita. Dengan kata lain dosa yang membuat kita malang dan menderita. Dosa yang membuat setiap yang melanggar hukum Taurat kena kutuk hukum Taurat. Tapi bersyukur kepada Tuhan ! Tuhan Yesus tergantung di kayu salib dan terkutuk supaya kita boleh  hidup berkelimpahan. Ini adalah kasih Allah kepada kita. Kata-kata saya yang sederhana tidak mampu melukiskannya. Kata-kata saya yang terlalu mekanik dan bersifat proposisi sangat mendangkalkan makna ini. Tetapi saya harus menjelaskannya dengan takaran saya. Allah mengasihi orang berdosa ! Kasih Allah dinyatakan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan inilah yang membuat kita bisa dilepaskan dari dosa dan kutuk hukum Taurat.   

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya.

Jeffrey Lim
30-11-2013

We have 5 guests and no members online