Refleksi dari Markus 5:1-20   

Di dalam Injil Markus 5 diceritakan mengenai Tuhan Yesus dan murid-muridNya yang sampai diseberang danau di daerah Gerasa. Bila kita mundur sebentar ke perikop sebelumnya Markus 4 dikatakan bahwa Tuhan Yesus dan murid-muridNya meninggalkan orang banyak dan bertolak ke seberang. Di dalam perjalanan mereka terjadilah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Pada saat itu Yesus sedang tidur dan murid-murid sangat ketakutan. Mereka membangunkan Dia dan mengatakan “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa ?”. Ia pun bangun dan menghardik angin dan berkata kepada danau itu Diam ! Tenanglah !. Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh. Di dalam peristiwa ini kita dapat melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa akan alam. Dia adalah Anak Allah yang menciptakan alam semesta ini, menopang alam semesta ini dengan FirmanNya dan otomatis mempunyai kuasa atas alam ini. Di dalam budaya Ibrani, lautan seringkali disimbolkan sebagai sesuatu kekacauan dan ketidakpastian. Disana adalah tempat hidupnya leviathan. Dan ternyata Yesus Kristus selain mampu menenangkan angin yang adalah kekuatan alam, juga mampu menenangkan sesuatu yang kacau dan tidak pasti ini.    

 

Ketika di dalam Markus 4, kita melihat Yesus Kristus sekali lagi meninggalkan orang banyak maka di dalam Markus 5 kita melihat Dia melayani satu pribadi yang kerasukan roh jahat. Pelayanan Yesus Kristus adalah pelayanan Firman secara public dan juga pelayanan Firman secara privat. Dia bukan saja berkotbah di banyak orang tetapi juga menggembalakan pribadi demi pribadi.

Ketika Yesus turun dari perahu, Alkitab mencatat bahwa datanglah seorang yang kerasukan roh jahat  dari pekuburan menemui Dia. Dikatakan orang diam disana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya sekalipun dengan rantai, karena sudah sering orang ini dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.   

Apa yang salah dengan orang kerasukan roh jahat ini ?   

Kita bisa mengatakan bahwa dia dikuasai kuasa kegelapan. Di dalam perspektif lain kita juga bisa  mengerti bahwa dia dikuasai oleh dosanya. Dosa mengakibatkan sesuatu yang indah menjadi kacau. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia mempunyai dignitas dan kemuliaan. Manusia dipanggil untuk mengatur alam semesta. Tetapi akibat dosa manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia menjadi hina. Dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah dan meleset dari sasaran standar hukum Allah. Kita melihat pada orang kerasukan ini ada beberapa hal dimana dia meleset dari standar hukum Allah.

1.    Dia dikuasai roh jahat
Seharusnya manusia dipanggil Allah untuk dikuasai oleh kebenaran dan kasih. Dipenuhi oleh Firman Tuhan. Dipenuhi oleh kesucian Allah. Dan bukan oleh roh kenajisan. Tetapi orang ini dikuasai roh jahat. Seharusnya manusia diciptakan Allah untuk siang malam merenungkan Firman Allah tetapi orang ini siang malam berkeliaran dan dikuasai roh jahat.

2.    Dia terpisah dari komunitas
Manusia diciptakan Tuhan untuk berelasi dengan sesamanya. Manusia diciptakan Allah di dalam pola Allah Tritunggal. Manusia adalah mahluk sosial yang berkomunitas. Tetapi orang ini sendiria, dijauhi oleh komunitas orang ramai dan bahkan sangat mungkin dibenci. Dia menjadi seorang yang dianggap hina dan memalukan. Dia berada di luar komunitas orang biasa. Dia sendirian bersama roh jahat. Dosa pada intinya adalah anti sosial. Dosa berpusat pada diri sendiri dan mengakibatkan konfik dengan orang lain.

3.    Dia menyakiti diri sendiri
Selain konflik dengan orang lain, orang kerasukan roh jahat ini konflik dengan dirinya sendiri. Dia menyakiti dirinya sendiri. Dia benci dengan dirinya sendiri. Kedamaian jiwa sudah tidak ada pada dia.

4.    Dia telanjang, berada di kuburan seorang diri dalam satu waktu
Dosa mengakibatkan segala suatu tidak pas pada tempatnya. Ketika Tuhan menanyakan kepada Adam : “Adam, dimanakah engkau ?”. Pertanyaan ini bukan pertanyaan lokasi. Pertanyaan ini adalah pertanyaan dimana posisi Adam seharusnya. Dia sudah tidak pas posisinya. Dia sudah melanggar ordo. Dia sudah melanggar Firman Allah.
Orang kerasukan ini seharusnya berbaju dan berbudaya. Dia seharusnya tidak berada di pekuburan seorang diri. Dia seharusnya berada bersama keluarga dan bersekutu bersama. Tetapi orang yang di dalam kegelapan ini berada di posisi yang tidak benar dan pas. Dia berdosa. Hamartia ( dosa ) berarti meleset dari sasaran

5.    Hatinya dikuasai kejahatan dan pikirannya tidak waras
Hati adalah pusat kehidupan seseorang dimana seluruh kehidupan terpancar keluar dari sana. Hati adalah seharusnya tempat seseorang menyimpan perbendaharaan yang baik dan akan mengeluarkan yang baik. Tetapi hati juga menjadi tempat kejahatan dan segala sesuatu yang jahat keluar dari sana. Hati orang kerasukan ini dikuasai kejahatan. Pikirannya pun tidak waras. Pikirannya kacau dan gelap.

6.   Hidupnya penuh kekerasan
Orang banyak mengikat dia dan bahkan merantainya. Dia mungkin sering dipukul dan memukul. Dia seorang yang buas dan tidak jinak. Hidupnya penuh dengan kekerasan.

7.    Hidupnya sangat menderita dan malang
Orang ini hidupnya sangat malang. Dia hidup bersama-sama dengan roh jahat dan dikuasai mereka. Orang ini tanpa pengharapan. Dia akan satu hari mati dan akan masuk neraka juga. Di dalam dunia ini dia hidup juga menderita. Hidupnya tidak di dalam kasih. Hidupnya di dalam kutukan orang-orang. Hidupnya penuh kekerasan. Hidupnya tidak ada damai.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan ! Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk mencari orang berdosa. Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk melayani. Raja yang datang ke dunia ini bukan memerintah dengan keras dan militer. Buluh yang terkulai Dia tidak patahkan dan sumbu yang pudar Dia tidak padamkan. Dia lemah lembut dan rendah hati. Ketika Yesus Kristus berkuasa atas alam dan sesuatu simbol kekacauan di dalam alam maka Tuhan Yesus juga berkuasa atas hati manusia dan hidup manusia yang kacau. Tuhan Yesus mengusir roh jahat dalam orang itu. Roh jahat dan kekacauan diusir dan Alkitab mencatat orang itu berpakaian dan pikirannya menjadi waras.

Dalam refleksi kali ini saya hendak menyoroti kata waras. Di dalam bahasa Inggris dikatakan bahwa orang ini pikirannya menjadi sound. Hal ini berarti pikiran orang ini menjadi tenang, tidak kacau dan menjadi tertib. Orang ini kembali dipulihkan.  Mentalnya dipulihkan. Dia dipulihkan bukan saja di dalam mental psikologis tetapi juga di dalam rohaninya dan di dalam relasi dengan sesamanya. Ketika orang ini ingin mengikut Yesus, Yesus mengatakan bahwa “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh TUhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau !”. Orang ini dipulihkan dari dirinya yang anti sosial menjadi relasi yang boleh mengasihi sesama. Dia juga memberitakan mengenai Yesus Kristus ke mana-mana. Kehidupannya menjadi kesaksian pekerjaan Tuhan.

Saya mencoba merefleksikan perikop ini dan mencoba melihat perikop ini di dalam konteks jaman sekarang.

Pertama melihat dan mengkontekstualisasi perikop ini secara umum kepada orang yang belum mengenal Tuhan dan belum bertemu dengan Tuhan Yesus. Mungkin kehidupan mereka tidak sekacau orang yang kerasukan ini secara fenomena. Tetapi secara kenyataan mungkin bisa ada miripnya. Bila seseorang hidup diluar Tuhan maka secara esensi hidup itu dikuasai kuasa kegelapan. Orang yang tidak mengenal Tuhan dan belum bertemu dengan Yesus Kristus dibutakan oleh ilah-ilah jaman. Mereka mungkin berpakaian dan berbudaya. Mereka mungkin bersosialisasi dengan sesamanya. Tetapi hati mereka tetap gelap. Hidup mereka tetap egois dan bahkan anti sosial pada dasarnya. Karena dosa adalah berpusat pada diri sendiri. Dosa mengakibatkan kita tidak bisa hidup mengasihi Tuhan dan sesama. Dan dosa mengakibatkan hidup kita tidak pas di dalam banyak hal. Ketika kita hidup mengenal Tuhan

Kedua melihat dan mengkontekstulisasi perikop ini khusus kepada orang-orang yang pada jaman ini dikategorikan sebagai seseorang  yang menderita gangguan psikologis dan mental. Orang-orang ini tentunya berbeda dengan orang yang kerasukan setan. Ada perbedaan jelas antara orang yang kerasukan setan dengan orang yang menderita gangguan psikologis. Tetapi kalau kita berbicara mengenai seseorang yang diikat oleh dosa maka ada kemiripan. Dosa mengakibatkan pikiran kacau. Secara umum orang yang mengalami gangguan psikologis dapat dibedakan menjadi sakit secara organik; gangguan psikologis seperti schizophrenia; mood disorder seperti :  bipolar disorder, depression; atau gangguan karena zat adiktif seperti kecanduan narkoba. Untuk membahas semua ini perlu hal yang banyak dan detil. Tetapi saya coba membagi gangguan jiwa seseorang ke dalam 2 kategori : pertama yaitu yang memang disebabkan karena fisik dan kedua yaitu yang disebabkan karena rohani ( dosa dia ). Bila tipe gangguan jiwa ini disebabkan karena aspek fisik dan sifatnya permanen maka hal ini mungkin sulit untuk disembuhkan. Tetapi bila tipe gangguan jiwa ini disebabkan karena dosa maka saya percaya  ada pengharapan bahwa gangguan jiwa ini dapat dipulihkan bila penderita bertemu dengan Tuhan Yesus. Ini iman kepercayaan saya. Walaupun demikian saya percaya bahwa ada proses dan bertahap. Jaman Tuhan Yesus berbeda dengan jaman kita. Di dalam jaman Tuhan Yesus adalah jaman dimana mujizat merupakan tanda mesianik dari Tuhan Yesus. Ini sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Yang buta melihat, yang bisu berbicara, yang lumpuh berjalan, dan yang tuli mendengar. Ketika jaman Tuhan Yesus banyak terjadi mujizat untuk menyatakan kedatangan Mesias yang diurapi. Tetapi pada jaman sekarang berbeda. Setelah jaman pasca rasuli, mujizat sudah tidak dicatat banyak terjadi seperti pada waktu jaman Tuhan Yesus dan jaman rasuli.  Saya percaya di jaman sekarang ketika seseorang bertemu dengan Yesus Kristus dan kemudian dipulihkan rohaninya mengakibatkan pemulihan aspek fisiknya. Namun semua pemulihan ini perlu proses dan bertahap. Ini adalah progressif sanctification. Pengudusan yang bertahap.

Penutup

Adalah sangat menarik bahwa kata waras ( sound mind ) yang dipakai di dalam perikop ini akar katanya sama dengan satu ayat di dalam 2 Timotius 1:7 yang berbunyi : “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban ( sound mind )”. Dengan demikian maka segala yang tertib dan teratur di dalam hati dan pikiran orang percaya diberikan Allah melalui RohNya yang kudus kepada kita semua. Ini adalah penghiburan bagi seseorang yang bergumul dengan keteraturan baik di dalam hati dan pikirannya.

Kiranya renungan ini boleh menjadi berkat

Jeffrey Lim
21-11-2013

We have 26 guests and no members online