Ketika saya merenungkan mengenai  kehidupan di kota, kehidupan di kota jauh berbeda dengan kehidupan di desa atau kampung. Mungkin kita masih dapat melihat bahwa di desa rasa kekeluargaan masih sangat tinggi. Kita masih saling mengenal tetangga satu sama lain dan sesama kaum kerabat masih berelasi dengan dekat. Tetapi kehidupan di kota lebih bersifat tidak saling mengenal dan individualistis. Coba bayangkan satu apartemen besar dan tinggi dimana semua orang tidak saling mengenal satu sama lain. Bahkan dengan kamar tetangga di seberang atau sebelah kanan kiri juga kita bisa tidak saling mengenal. Setiap orang hidup di dalam isolasinya sendiri. Kehidupan kota secara umum bukanlah kehidupan komunitas tetapi kehidupan yang terasing dan terpisah satu sama lain.

 

Problema keterasingan dan isolasi ini tentunya akan menggangu kehidupan pribadi seseorang. Tingkat stress akan semakin meningkat. Tingkat kriminal dan orang yang sakit jiwa semakin lebih banyak. Orang yang kesepian dan merasa kosong makin banyak. Inilah realita yang kita hadapi. Satu hal yang aneh yaitu ketika penduduk semakin padat dan semakin banyak maka orang makin tidak mengenal satu sama lain. Relasi semakin tidak mendalam. Dan juga ketika teknologi HP, computer, internet semakin maju dan orang semakin terkait dalam jaringan social media tetapi ternyata kehidupan relasi manusia semakin jauh dan renggang. Kehidupan relasi semakin artifisial, basa-basi dan tidak esensial untuk kemanusiaan kita.   

Di tengah keramaian manusia dan di tengah terkoneksinya seluruh jejaring social media manusia bukan semakin limpah hidup relasinya tetapi semakin kesepian dan tidak bahagia. Problema kesepian menjadi satu realita yang dihadapi banyak anak muda sekarang. Hidup manusia terasa kosong dan hampa. Sesungguhnya manusia itu haus akan sesuatu. Ada bagian diri manusia yang tidak bisa terisi oleh apapun. Seluruh hiburan yang ada di dalam dunia ini tidak bisa mengisi satu hal di dalam batin manusia yaitu relasi dengan Allah. Kekosongan ini hanya dapat diisi oleh kehadiran Allah.

Manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah Tritunggal. Allah Tritunggal adalah Allah yang satu tetapi mempunyai tiga Pribadi. Ketika manusia diciptakan menurut gambar Allah maka manusia diciptakan untuk berelasi dengan Tuhan Allah dan sesamanya. Alkitab mencatat bahwa tidak baik manusia seorang diri. Tuhan Allah memberi Adam seorang yang lain yang kemudian menjadi istrinya. Intinya manusia tidak baik terisolasi seorang diri. Manusia adalah mahluk sosial dan mahluk relasional yang seharusnya berelasi dengan Allah dan sesamanya. Tetapi ketika dosa memasuki kehidupan manusia maka disana terjadi kerusakan di dalam relasi. Relasi dengan Allah menjadi permusuhan. Relasi dengan sesama menjadi konflik, saling menyalahkan, saling mementingkan diri sendiri. Akibat dari dosa adalah manusia ada di dalam murka Allah, terasing, isolasi, hidup dalam konflik dan penolakan. Hidup manusia sudah menjadi keras dan kejam. Ini tragedi.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan Allah !

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yaitu Yesus Kristus ke dalam dunia ini, supaya yang percaya kepadaNya tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal (  Yoh 3:16 ). Tuhan Yesus datang berinkarnasi ke dunia yang tidak bersahabat ini. Dia datang sebagai terang di tengah-tengah kegelapan. Tuhan Yesus masuk ke dalam dunia orang berdosa dan hidup bersama-sama dengan mereka. Dia mengalami penolakan. Dia mengalami perendahan dan olok-olok. Dia dihina. Seorang yang biasa menderita sengsara dan kesakitan. Dia menderita demi umatNya. Bahkan penderitaan yang paling hebat yang Dia alami adalah di kayu salib.

Ketika kita merenungkan mengenai kayu salib. Kita mengerti bahwa di kayu salib Yesus Kristus ditinggalkan oleh Allah Bapa. Dia yang tidak berdosa dijadikan dosa oleh karena kita orang berdosa supaya kita dibenarkan di dalam Dia. Murka Allah ditimpakan kepada Kristus Yesus. Dia menanggung hukuman dosa bahkan mengalami penderitaan neraka itu sendiri. Dia adalah Anak Domba Allah yang disembelih untuk korban penghapus dosa. Di kayu salib, Dia mengalami kutukan karena umatNya. Kitab Suci berkata bahwa terkutuklah orang yang digantung dikayu salib. Di kayu salib, Yesus Kristus ditolak Allah dan ditolak manusia. Di saat-saat terakhir murid-muridNya meninggalkan Dia. Bahkan Bapa yang mengasihiNya juga meninggalkan Dia. Yesus Kristus mengalami sengsara dan Dia tahu apa itu isolasi, kesepian, penolakan dan derita.

Bersyukur  karena karya Tuhan Yesus Kristus di kayu salib maka orang yang percaya kepadaNya menerima anugerah demi anugerah. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah ( Yoh 1:12 ). Mereka diadopsi menjadi anak-anak Allah. Sekarang orang yang percaya kepadaNya boleh hidup dalam relasi dan damai sejahtera dengan Tuhan Allah.  Dan karena salib Kristus, orang berdosa boleh diperdamaikan dengan orang berdosa. Di dalam gereja ada komunitas orang percaya. Relasi manusia dipulihkan. Manusia boleh hidup di dalam relasi dengan Allah dan sesama. Semua ini boleh terjadi karena adanya pengampunan. Karena Yesus Kristus mati di kayu salib maka pengampunan boleh terjadi. Karena Tuhan Yesus mati dikayu salib maka kita berada di dalam kasih Allah. Karena Tuhan Yesus, kita boleh mengalami janji Allah bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita dan apapun yang terjadi di dalam dunia ini tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

Praise the Lord !

Jeffrey Lim
30-8-2013

We have 27 guests and no members online