Ketika merefleksikan hidup dan juga refleksi mengenai usaha saya di bidang IT, saya mulai menyadari bahayanya pola pikir pragmatism ( memikirkan benefit dan yang praktis tanpa mempertimbangkan aspek2 pertimbangan yang lain ). Pragmatism itu membuat hidup menjadi reduksi dan menjadi dangkal. Biasanya di dalam hidup saya, pragmatism yang saya gumuli itu berkaitan dengan bagaimana mengisi waktu dan dikaitkan juga dengan mencari nafkah.

 

Seringkali tanpa berpikir lebih dalam saya sering terjebak kepada rutinitas dan bagaimana cara untuk bisa mengembangkan usaha dan cara mendapatkan nafkah. Tetapi seringkali semua itu dijalankan tanpa memikirkan lagi apa itu natur usaha, apa itu IT, apa itu Internet, apa natur komputer, apa relasi komputer dengan hidup, bagaimana bisa menjadi berkat di bidang IT, bagaimana memanfaatkan teknologi untuk jadi berkat dan mendatangkan shalom, Bagaimana manusia saling berelasi di abad informasi ini, Apa kaitan Internet dengan komunikasi, media massa dan relasi antar manusia ? Apa kaitan Internet dengan bisnis ? Apa tujuan hidup di dalam usaha ? Bagaimana konteks budaya di abad 21 dalam abad informasi ? Bagaimana mengembangkan usaha dan bertumbuh dalam segala aspek tanpa reduksi. Dan Masih banyak topik lain yang kurang digumuli

Saya akhirnya makin menyadari perlunya waktu untuk refleksi setiap hari untuk mencari hikmat. Jangan terjebak hanya kepada pragmatis yang mencari nafkah tanpa memikirkan hidup lebih dalam lagi.  Biasanya kita pikir bahwa kalau saya sibuk dan terus bergumul dengan rutinitas maka saya banyak gain ( mendapatkan ). Dengan gaining maka kita lebih happy. Karena itu hidup diarahkan kepada gaining untuk happy.  Sebenarnya pola pikir ini salah. Pola pikir gaining adalah pola pikir yang selalu ingin meraih bukan untuk membagi. Lebih fokus kepada self daripada kepada Truth. Pola pikir yang lebih benar adalah kita hidup ini harus dikaitkan dengan apa yang Tuhan ingin kerjakan di dalam hidup kita. Kita sebagai penatalayan dipercayakan untuk mengatur hidup dan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat. Pola pikirnya bukan gain tapi give yaitu dalam konteks anugerah.

Dengan pola pikir kebiasaan pragmatis membuat hidup kita lebih dangkal. Ambil contoh : seringkali saya ingin gain cepat tanpa mempertimbangkan banyak hal. Misalnya calon pelanggan menanyakan berapa harga program ini, maka saya langsung memberikan harga kira-kiranya. Tetapi ketika lebih ke depan, saya menyadari bahwa ini kurang bijaksana. Satu hal yaitu dengan kita cepat-cepat maka seringkali terjadi kecerobohan di dalam analisa terhadap sistem nilai. Kita menjadi kacau di dalam menilai karena kita ingin cepat gaining. Waktu kita, usaha kita, ketenangan kita direbut oleh bagaimana gaining. Kita lebih restless dan tidak tenang, lebih tergesa-gesa tanpa tenang memikirkan hidup dalam anugerah Tuhan. Bahkan secara ekonomipun pola pikir pragmatism ini bisa merugikan. Misalnya : Sebetulnya program yang dibuat itu perlu usaha yang lebih besar dan harga bisa jauh lebih mahal dan ternyata pembuatannya lebih kompleks diluar dugaan. Akibatnya kita menjadi rugi karena kecerobohan kita. Kedua juga profesionalitas di dalam dunia kerja menjadi kurang. Karena tanpa analisa yang matang kita sudah menentukan jalannya bisnis. Nah ini terjebak kepada pragmatism tanpa refleksi lebih dalam. Ini membuat jadi dangkal dan merugikan.

Timbul pertanyaan yaitu mengapa seringkali saya berpikir pragmatis ? Selain tentunya karena semangat jaman dan juga ini default manusia pada umumnya. Saya juga memikirkan mengapa seringkali kita suka pola pikir pragmatism karena kekuatiran hidup. Salah satu faktor terbesar yang membuat kita pragmatism menurut refleksi saya adalah kekuatiran hidup. Sebenarnya hal ini tidak sederhana. Ada konsep di baliknya yaitu kita menganggap sekuritas kita ada di dalam materi. Kebahagiaan kita ada di dalam materi. Materilah yang membuat kita puas dan bahagia. Namun masalahnya materi itu perlu diusahakan dicari maka kita perlu berusaha dan memikirkan untuk mencari materi.  Semua ini lingkaran setan dan dibungkus di dalam satu framework kekuatiran dan kekurangan. Semua ini terjadi karena kita kurang percaya akan pemeliharaan Tuhan dan kasih karuniaNya yang berlimpah. Kita kurang sadar akan dunia ini ditopang oleh tangan Tuhan yang aktif berkuasa dan dengan FirmanNya.
Pragmatism berkaitan dengan konsep waktu, konsep materialism, konsep sekularisme dan kita harus terobos ini.

Marilah kita mulai pagi hari ini dengan perenungan yang lebih mengenai hidup kita.

We have 22 guests and no members online